Senin, 15 Juli 2013

Dialog Pertama

Tuanku, apa kabarmu?
Sudah lama kita tidak bersua, tidak berkomunikasi dengan cara yang pertama kali mereka ajarkan kepadaku.
Dialogku denganmu yang kututurkan baru-baru ini kepadamu bukan maksud bentuk dari kesombonganku.
Percakapan antara diriku dan Tuan selalu terjalin hanya saja dengan cara yang berbeda akhir-akhir ini.
Kali ini aku rindu. Sungguh sangat rindu kepada Tuan.
Rindu ini telah bersarang semenjak pertama kali kau tiupkan jiwaku kedalam raga ini.
Rindu tak tahu akan apa.
Mungkin rengkuhanmu? Atau dekapanmu?
Maka, kumulai lagi berdialog denganmu dengan cara yang pertama kali mereka kenalkan kepadaku.
Walau kutidak mengerti artinya. Makna dari setiap geraknya. Yang kumiliki hanya imanku dan kepercayaanku akan dirimu.
Maka Tuanku, dengarkanlah setiap kata yang terlontar dari hatiku sebagai bentuk kerinduanku kepadamu.

Minggu, 14 Juli 2013

To Whom It May Concern




Dear whoever you might be...

Rabu, 10 Juli 2013

"Apakah Yang Kubutuhkan?"


"Apakah Yang Kubutuhkan?"

      Jadi, apa yang kau butuhkan? Kau harus tetap selaras dan mencari tahu. Jika semua orang memiliki takdir yang sama, maka setiap anak akan memiliki tingkat kepintaran, kepopuleran, dan keatletisan yang sama. Jangan merasa terbuang jika kau pikir kau tidak memiliki sesuatu untuk dibanggakan, karena jiwamu akan membantumu memiliki sebuah hidup yang tak dimiliki orang lain, kecuali dirimu. Suatu hari , perhatianmu mungkin akan tertuju oada seekor katak di pinggi kolam karena kau ditakdirkan untuk menjadi seorang ahli biologi, sedangkan temanmu hanya memperhatikan air kolam, karena ia ditakdirkan untuk mengikuti arus laut.
      Hal-hal kecil yang kau perhatikan, dan hal-hal kecil yang kau impikan, akan bekerjasama. Sedikit demi sedikit, kau akan mengumpulkan beribu potongan puzzle, dan ketika semua potongan itu akhirnya telah terkumpul, mereka semua adalah milikmu. Baba mengajarkan untuk mempercayai bahwa aku adalah seorang yang unik, dan jiwaku benar-benar mengetahui apa yang membuatku sempurna dalam keunikanku sendiri. Mulai saat ini, jika kau merasa kecewa karena kau tak mendapatkan apa yang kau inginkan, ingatlah bahwa hal yang benar-benar kau inginkan adalah membiarkan jiwamu memenuhi apa yang sebenarnya kau butuhkan.
"Fire in The Heart" - Deepak Chopra

Sabtu, 29 Juni 2013

Menantikan Lain Kali

Untuk mereka,
yang mengisi hampir 7/10 dari hidupku.

Yang menciptakan corak, laksana saya sebuah kanvas.
Yang tergelak, dalam setiap gelagat dan tutur.
Yang memberikan alasan untuk hidup.
Yang berfungsi sebagai stimulan, menciptakan angan akan negeri mimpi.
Hingga terdorong dirinya untuk menyusun rangka kehidupan yang sempurna, dikala dunia kian absurd.
Mempercayai dunia boleh buruk, asal kita tetap lurus.
Menyontoh norma satu sama lain, kebaikan masih ada.
Yang menorehkan luka atas kenyataan yang terbelokkan.
Menyisakan kerancuan akan apa yang masuk diakal.
Ingin pergi memandang hina, tapi kenangan memupuk sayang.
Yang tanpa niat mengajarkan menerima fakta yang sengit.
Namun, itu yang nyata. Yang pilu, yang bengis, yang bukan lurus.
Memandang sebelah mata pada saat itu, namun dibujuk oleh waktu, kembali untuk membentangkan tangan.
Dalam 7/10 hidup kami belajar, menerima, mengasihi demi jiwa yang berkembang.
Ucap syukur atas pertemuan yang telah diaturnya.
Maka sekarang, pergilah berperai-perai kami. 
Melanglang, berkelana di setapak kami sendiri.
Hingga kami dipertemukan kembali, ceritakan pengembaraanmu.
Tentang hidup yang bercerai, yang mengutus kami untuk berperai-perai, memiliki ceritanya masing-masing.
Untuk menarik hidup satu persatu biar kembali, menciptakan kesatuan cerita.





Tidak ada Moko, melihat pemandangan bintang artifisial dari Warung Sitinggil bersama kawan pun sempurna <3 nbsp="">



Tidur dilatarbelakangi pemandangan kota Bandung


Rizki: "Jangan gantungin anak orang dong"
Dhira: "Aku ngga gantungin tapi aku seneng aja diperhatiin"
Rizki: "Tapi kan orangnya jadi ngarep"
Dhira: "Aku kan cuma play-play"
Rizki: "Ini hati, bukan Dufan"



Dinner

Selalu masalah sama muka Ayie



Kurang Moko dan Kawah putih akibat kelebihan masa pada mobil nisa yang berkapasitas 5 orang, namun kami ngeyel penuhi dengan 7 orang. Menantikan lain kali.....




- Bandung, 27-29 Juni 2013

Rabu, 26 Juni 2013

Dari Lensa Pecah

Sobatan
Dalam kesyahduan malam dan dingin yang menusuk tulang


Di sana





"Di ujung malam, menuju pagi yang dingin"


Waras

Micro



"Dibawah sinar bulan purnama..."




Rabu, 12 Juni 2013

Metafora Adam

Kepada Phobos aku mempelajari bahwa keajabain berwujud.
Di dalam pengembaraan aku menyicipi daya dan kekuatan.
Dengan keterpurukkan aku mengarifi dan memahami.
Dalam angin yang berhembus aku memahami keterbukaan dan teori akan pengalaman-pengalaman yang menembus batas normaku.
Di dalam kesucian aku mengimani takdir,







dan kepada anjing yang berdiam kehilangan arah....


aku mengerti penantian dan arti sabar.

Senin, 10 Juni 2013

Orang Asing

Mungkin ini cerita cukup saya dan Tuhan yang tahu. 
Mungkin vespa orange mu juga tahu, tapi ia tidak pernah berbisik kepadamu. 
Mungkin kalau waktunya tiba... cukup Tuhan yang atur, saya tidak berani prediksi untuk apa pertemuan kita terjadi.
Orang bilang ada rahasia dibalik pertemuan. 
Dipertemukan tanpa sadar, dipisahkan kembali untuk menjalankan jalannya masing-masing. 
Lalu tanpa sadar menunggu, hanya untuk dipertemukan kembali. 
Di waktu yang tepat.



Tanggalan awal di tengah bulan, tahun 2013. Berkali-kali mereka menyebut namamu. Tidak ada yang asing rasanya untuk orang yang belum pernah ditemui. 
Aneh. 
Lalu aku melihat wujudmu, lantas aku mengernyit akan sosok yang sepertinya akrab. 
Sudah hampir seminggu ini radarku kau kacaukan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Pertanyaan yang tidak terjawab tentang aku tidak tahu apa. Tapi alam bawah sadarku merasa segalanya tampak familiar. Tak daya kuperhatikan wajahmu. Berkali-kali kau tangkap mataku.

Seminggu berlalu, aku pulang tanpa jawaban. Hanya sedikit informasi yang kupunya. Dari goresan-goresan mu yang kutemui. Semuanya menarik. Tak kuasa kubuatkan kau puisi, untuk pemikiranmu yang kupuja.

Sedikit demi sedikit sepertinya kosmos berbicara. Menarikku ke waktu itu. Di mana kita hanyalah orang asing yang menjalani hidupnya masing-masing. Rangkaian pertemuan kita lambat laun tersusun.



Puluhan Desember di ujung tahun 2012, saat itu di depan gang Stupa. 
Kamu dan vespamu. 
Aku dan backpack-ku berhasrat untuk memulai petualangan di kota yang pernah terendam lautan api. Aku bersama kawanku menunggu angkutan umum. Serampangan kamu dan vespamu berjalan tidak seimbang menaiki polisi tidur. Mataku telah menangkap daya tarikmu. Cukup hatiku yang tahu bahwa ia tersenyum. Aku pikir saat itu kita hanya dua orang asing yang sedang menjalani hidupnya masing-masing.

Namun kau sapa kawanku dari atas vespamu. Lalu sambil kau berlalu, kawanku bercerita sedikit tentangmu. Di mana tempat tinggalmu dan juga warna vespamu yang kau pilih berdasarkan pendapat dari kawanku. Namun sekali agi aku berpikir bahwa kita hanya dua orang asing yang sedang menjalani hidupnya masing-masing.



Bukan hanya saat di gang stupa, takdir telah mempertemukanku dengan keluargamu jauh sebelum kita mengenal. Tapi kita saling tidak tahu bahwa kita terikat dengannya. Takdir telah mengarahkanku untuk mengenalimu hingga waktunya tiba kita dipertemukan. Kita pernah bertemu jauh sebelum kita mengenal. 


Mungkin itu sebabnya mengapa mataku selalu mencuri pandang ke arahmu. Karena memori otak ku masih menyimpan bayang dari wajahmu yang hanya Tuhan yang tahu.


Sekali lagi takdir memisahkan kita. Menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang hanya masa depan yang mampu menjawab. Mungkin kali ini saya harus menunggu lagi hingga waktu mempertemukan kita kembali. Di dalam masa yang telah ditentukan.